Minggu, 16 Juni 2013

ASRAMA ASRINA
Oleh: adhitiyfatwa farih


“Jen”
“Apalagi sih Riiiiin!” langkahku terhenti, karena omelannya yang tak kunjung berhenti.
“Aku cuma mau ngingetin, asrama tutup jam 10 malem”   
“Iyeee tauu..”
            Brak! Aku hanya ingin refreshing malam ini. Aku tak peduli dengan aturan asrama yang begitu ketatnya. Ugh! Kalo saja bukan karena ayahku, aku tak akan mau di gedung kuning berlantai 3 ini. Memang, benda berwarna kuning adalah favoritku, tapi tidak untuk yang satu ini! Tempat ini lebih aku anggap sebagai Lapas Cebongan. Ruangan 4x3 meter ini, membuatku sudah cukup jenuh dengan tatanan barang-barangku yang lebih tampak seperti kapal pecah ala titanic. Ditambah lagi teman sekamarku Rina, yang sudah seperti sipirnya.
            Aku langkahkan kakiku satu per satu melewati tangga. Di teras asrama, terlihat Rere sudah menungguku.
“Hai Jen!” sapa cewek berjilbab abu-abu itu dari kejauhan.
Pakaian kotak-kotak biru kesukaanya, dipadu dengan setelan celana gunung  hijau tentara dengan kantong di mana-mana. Tak lupa  sepatu kets bututnya yang selalu ia pakai. Aku curiga Rere tidak pernah mencuci sepatunya sejak ia membelinya 3 tahun yang lalu. Motor bebek yang tak kalah butut, menambah kesan ‘klasik’. Sayangnya motor ini hobi sekali mogok. Mungkin ia bermodus untuk mendekati mas-mas montir ganteng di sebelah kampus. Satu yang membutaku heran, helm bentuk helo kiti yang kontras dengan suara ‘merdu’ sang motornya.
“Hoi! Udah nunggu lama ya?” tanyaku.        
“Lumayan. Tiga hari yang lalu”         
“Hahha. Lebay lu!”    
“Jadi kemana nih kita malem-malem?”       
 “Terserah deh. Yang penting ke suatu tempat yang nggak bikin otak gue pecah”
“Haha. Pasti kamu stress gara-gara tugas kemaren”           
“Au ah. Nggak usah di bahas deh”    
“Hihihii. Sensi amat Bu. Eh, udah shalat isya belum?”         
“Ck, udah”, bola mataku berputar cepat
“Siiip. Gitu dong. Kan cakep tuh!”     
“Iyaa Bu Hajii. Udah deeh buruaaan”           
“Hahha. Iyaa iyaaa. Eh, kita ke jagung bakar Pak Jo aja yuk. Tempatnya kan enak tuh”    
“Boleh deh. Berangkaaaaat!”           

****

            Klek. Dengan muka sayu, tubuhku terhuyung-huyung memasuki kamar. Tenagaku terkuras habis untuk mendorong motor Rere yang mogok ‘lagi’. Kasur empuk menjadi satu-satunya tujuanku saat ini. Aku lihat Rina tengah sholat tahajud. Lampu tidur kuning yang teduh, membuat mataku yang sudah 3 watt, semakin tak tertahankan lagi. Kurebahkan badanku yang mulai kehilangan kendali. Tak peduli dengan baju dan kaos kaki yang masih ku kenakan.
“Kamu baru pulang Jen?” katanya selepas sholat.
 “Hemm..”
“Loh, bukannya pintu gerbang belum dibuka?”
“Hemm..”
“Terus gimana bisa masuk?”
Suasana hening.
“Jen.. Jen..”
“Apaan siih Riiin. Aku lompat jendela. Oke?! Sekarang gue pingin tidur. Plis! Jangan ganggu. Gue capek!”
“Em,, maaf. Aku cumaa...” suara Rina tak terdengar lagi. Aku sudah terbawa mimpi.

***

            Kubuka mataku lebar-lebar. Kedua jarum jam saling bertumpuk di angka 9. Kamar sepi. Ah, paling si Rina kuliah.
“Jeeeeeeeeennn....!” terdengar suara cempreng Rere dari luar asrama. Benar saja, ia telah siap dengan motor bututnya. Ku longokkan kepalaku ke luar. Terlihat Rere yang mendongak
ke arah jendela kamarku di lantai 3.
“Ngapain lu di situ?” tanyaku
“Katanya kamu mau nganterin aku bikin kacamata?” kata Rere setengah berteriak.
“Oh iye. Gue lupa” kugaruk kepalaku yang tak gatal.          
“Buruan gih, rumah sakit tutup jam 10”       
“Iyeee bentaaar. Gue mau mandi dulu”       
“Cepetan yaaa”         
            Sedetik kemudian aku telah berada di kamar mandi.
***
            Gedung putih ini begitu ramai. Heran, kenapa begitu banyak orang yang sakit akhir-akhir ini.    
“Eh Re, bikin kacamata kok ke rumah sakit sih? Emang dokternye jual kacamata?” tanyaku penasaran
“Hahha. Bukan gitu Jen. Aku mau bikin pake askes, jadi musti pake surat pengantar dari dokter”
“Askes? Oiye. Lu kan suka cari gratisan”      
“Hahhaa. Kan kamu tau sendiri”       
“Dasar.  Eh, gue ntar pinjem buku pengantar biologi ye”    
“Oiya, besok kan kita ada uts yak?”  
“Iyoo. Boleh kan?”     
            Rere malah terdiam. Ia tampak mengamati sesuatu dari kejauhan.
“Eh Jen. Itu bukannya temen sekamarmu? Sapa tuh namanyaa? Roino? Roni? Rona?”     
            Kutolehkan wajahku ke arah yang di maksud. Terlihat seorang perempuan berdiri di depan loket pengambilan obat.     
“Rina maksud lo?” kupicingkan mataku        
“Nah, iya tuh Rina”    
“Masa sih? Bukanlaah, dia tuh jam segini di kampus. Dia kan rajin, trus getol banget tuh kuliahnya. Ngapain juga dia ke sini”     
“Ooh. Bener juga ya. Salah orang mungkin”
            Benar saja. Sedetik itu juga, orang yang mirip Rina menghilang.
***

            Kamar ini memang menjenuhkan. Tapi terasa tenang untuk saat ini. Setidaknya sampai sipir di kamarku ini belum terbangun. Yup, dunia terasa damai jika orang yang satu ini berhenti menceramahiku. Seakan seluruh peraturan asrama, hanya dia yang tahu.
Ku buka jendela yang sudah lama tak ku pandangi. Senja yang indah. Sudah lama aku tak melihat pemandangan seindah ini. Kamarku memang tempat paling strategis untuk melihat sunset di antara gunung-gunung yang menjulang tinggi. Aku jadi ingin membereskan kamarku. Aku tak ingin, nanti malam aku belajar dengan kondisi  ‘kapal pecah’ seperti ini.
            Setelah lama ku bereskan kamarku, terdengar suara ketukan dari luar. Siapa malam-malam begini? Mungkin ia tak punya jam dikamarnya. Sehingga ia tak tahu, jam 10 malam bukan waktu yang tepat untuk bertamu.
“Assalamualaikuum”
“Walaikum salaam.” Ku buka pintu kamar.
“Rinanya ada?”
“Ada tuh. Lagi tidur”
            Dina masuk ke ruangan. Ia terlihat heran.
“Masih tidur?”
“Iyoo”
“Sejak sebelum dzuhur?!”
 “Mana gue tahu. Gue baru pulan jam 4”
Dina langsung menghampiri tempat tidur. Sedetik kemudian terdengar teriakan Dina. Aku bergegegas menghampirinya. Kulihat bercak darah keluar dari mulut Rina. Segera ku telepon Rere untuk membawa motornya ke asrama. Sedangkan Dina berusaha menyadarkan Rina yang tak juga bangun. Untung Rere segera datang. Dengan kekuatan yang tersisa, ku gendong tubuh Rina yang kurus itu menuruni tangga. Sedangkan yang lain berusaha menelepon ambulan.
“Tunggu ambulan dulu Jen!” saran Renata
“Kelamaan! Gue bawa pake motor Rere aja ke rumah sakit terdekat"
“Tapi Jen!” cegah Dina
Ku naikkan tubuh Rina yang semakin lemas itu. Tak peduli dengan baju dipunggungku yang mulai memerah karena darah. Kupegangi dia dengan membonceng dibagian belakangnya. Aku tak peduli semua meneriakiku. Orang ini harus segera diselamatkan!
“Siap Re!”
Sedetik kemudian Aku dan Rere membawa Rina meluncur ke rumah sakit. Dalam hati aku sempat berfikir,  tumben motor butut ini tak mogok lagi.
***

“Gimana kondisi Rina Jen?” Renatha datang beberapa menit kemudian menyusul kami.
“Dia sedang di UGD. Kami disuruh menunggu di sini” kata Rere    
Plak! Tamparan keras Dina mendarat di pipi kiriku. Renatha langsung menahan Dina.
“Apa-apan lo!!” kataku tidak terima 
“Kenapa kamu biarkan Rina sampe begitu?! Kamu kan teman sekamarnya!” bentak Dina
“Kenapa lu jadi nyalahin gue? Mana gue tau! Masih mending gue mau ngater dia ke sini!”
“Kamu emang nggak pernah peduli sama temen sekamar lo sendiri. Asal kamu tahu! Dia setiap hari sakit-sakitan di kamar. Kamu nggak tahu kan dia kena kanker darah?!”
“Maksud lo leukimia?” tanya Rere   
“Iya!! Dengan kondisi seperti itu pun, dia masih getol belain kamu setiap ibu asrama nanyain kamu. Dia berusaha tiap hari ngelak kalo kamu sering lompat jendela! Dia takut kalo kamu sampe dikeluarkan dari asrama!”         
“Iya Jen, sebenarnya kita udah berusaha untuk mau kasih tau kamu. Tapi Rina melarang kami. Dia bilang kamu banyak urusan, jadi ia tak mau jadi beban pikiranmu.” Terang Renatha
            Aku hanya terdiam. Menatap lantai dengan tatapan kosong.
“Kenapa dia nggak dirawat inap aja, kalo tau penyakitnya separah itu?” tanya Rere
“Kita udah coba bantu dia. Tapi  kami tak punya uang cukup untuk membantu pengobatanya. Ia pernah bilang bahwa ia akan meminjam uang teman sekamarnya saja. Tapi ternyata ia selalu tak punya waktu untuk membicarakannya denganmu.” kata Renatha
“Kamu terlalu sibuk sama urusanmu sendiri! Lo emang nggak pernah peka!!”
            Beberapa detik kemudian, suster keluar dari ruangan UGD. Semua anak mengerumuninya. Kecuali aku, yang masih termenung dengan kata-kata Renatha tadi. Tak beberapa lama kemudian mereka terlihat sedih. Rina kritis. Tak tersadar, pipiku mulai basah dengan buliran air.
***

Ku jaga Rina dari tidurnya. Ia telah melewati masa kritisnya sepanjang malam tadi. Ku tatap wajahnya yang begitu sayu. Kesan seorang sipir diotakku langsung menghilang. Ia sekarang lebih terlihat seperti seorang tahanan yang tidak pernah diberi makan cukup oleh penjaga Lapas. Tak beberapa lama kemudian, ia terbangun.
“Kamu masih di sini Jen?” tanya Rina yang suaranya semakin lemah.
“Em.. iya” jawabku kikuk
“Tapi kan hari ini kamu uts?”
“Nggak papa. Santai saja. Ada banyak kesempatan uts susulan. Tapi kesempatan punya teman yang perhatian kaya elo, cuma sekali seumur hidup.”
“Makasih ya Jen. Maaf jadi merepotkanmu”           
“Gue yang seharusnya minta maaf. Nggak pernah sadar, kalo gue punya temen yang perhatian banget kaya elo” tak tertahan lagi air mata. Terasa sangat sesak didada. Spontan langsung kupeluk erat-erat Rina. Aku tak peduli dengan berbagai selang yang ada di tubuhnya.
“Maafin gue, Asrina”


----End----