Man, ane punya certa nih cerita ini. Cerita ini ane ambil dari note grup Mimbar Dakwah Islam di facebook. Memang sih, kelihatanya puanjaaaang sekali. Tapi menarik kok. Dan sangat bisa memotivasi kita semua. Semoga bermanfaat yah.
Monggo :)
Satu hari saya jalan melintas di satu daerah.
Tertidur di dalam mobil. Saat terbangun, ada tanda pom bensin sebentar
lagi. Saya berpesan ke supir saya, “Nanti di depan ke kiri ya.”
“Masih banyak, Pak Ustad,” jawab sopir saya.
Saya paham. Si sopir mengira, saya ingin membeli bensin. Padahal bukan.
“Saya mau pipis,” jelas saya pada sopir.
Begitu berhenti dan keluar dari mobil, ada seorang sekuriti.
“Pak Ustadz!” panggilnya seraya melambaikan tangan dari kejauhan dan mendekati saya.

Saya menghentikan langkah. Menunggu si sekuriti.
“Pak
Ustadz, alhamdulillah nih bisa ketemu Pak Ustadz. Biasanya kan hanya
melihat di TV saja,” ujarnya sembari tersenyum sumringah.
Saya
juga tersenyum. Insya Allah, saya tidak merasa gede rasa. “Saya ke
toilet dulu ya,” kata saya meminta pengertian sang sekuriti.
“Nanti saya pengen ngobrol. Boleh Ustadz?” laki-laki itu berusaha menahan langkah saya.
“Saya buru-buru, lho. Tentang apaan sih?” jawab saya sembari menatapnya tajam.
“Saya bosen jadi satpam Pak Ustad.”
Sejurus kemudian saya sadar. Ini pasti Allah pasti yang memberhentikan langkah saya.
Lagi
enak-enak tidur di perjalanan, saya terbangun karena ingin pipis,
lantas sampai di sebuah pom bensin, hingga akhirnya bertemu sekuriti
ini. Berarti barangkali saya harus berbicara dengannya. Sekuriti ini
barangkali “target operasi” dakwah hari ini. Bukan jadwal setelah ini.
Demikian saya membatin.
“Ok, nanti setelah dari toilet ya,” jawab saya pada sang satpam.
“Jadi,
gimana? Bosen jadi satpam? Emangnya nggak gajian?” tanya saya membuka
percakapan. Saya mencari warung kopi, untuk bicara-bicara dengan
beliau ini. Alhamdulillah ini pom bensin bagus banget. Ada
minimart-nya yang dilengkapi fasilitas ngopi-ngopi ringan.
“Gaji mah ada, Ustadz. Tapi masak gini-gini aja nasib saya?”
“Gini-gini aja itu karena ibadah Bapak juga gini-gini aja. Disetel bagaimanapun, agak susah merubahnya.”
“Wah, ustadz langsung nembak aja nih.”
Saya
meminta maaf kepada sekuriti ini umpama ada perkataan saya yang
salah. Tapi umumnya begitulah manusia. Rezeki mau banyak, tapi kepada
Allah tidak mau mendekat. Rezeki mau bertambah, tapi ibadah tidak mau
ditambah. Dari dulu tetap begitu-begitu saja.
“Sudah shalat ashar?”
“Barusan, Pak Ustadz. Soalnya kita kan tugas. Tugas juga kan ibadah, iya nggak? Ya saya pikir sama saja.”
“Oh, jadi nggak apa-apa telat, ya? Karena menurut Bapak, kerja Bapak adalah juga ibadah?”
Sekuriti
itu tersenyum meringis. Mungkin ia jujur mengatakan demikian. Mungkin
juga tidak. Artinya, sekuriti itu bisa benar-benar menganggap
pekerjaannya sebagai ibadah. Namun bisa juga tidak. Anggapan pekerjaan
sebagai ibadah cuma sebatas ucapan saja. Lagi pula jika menganggap
pekerjaan-pekerjaan kita adalah ibadah, maka apa yang kita lakukan di
dunia ini semuanya juga ibadah kalau kita niatkan sebagai ibadah.
Tapi,
hal itu ada syaratnya. Apa syaratnya? Yakni kalau ibadah wajib
dijadikan prioritas nomor satu. Kalau ibadah wajibnya dijadikan
prioritas nomor tujuh belas, tentu adalah bohong belaka jika menganggap
pekerjaan sebagai ibadah. Lantas, apakah kita tidak boleh meniatkan
pekerjaan sebagai ibadah? Tentu saja boleh! Bahkan bagus sekali, bukan
hanya boleh. Tapi kemudian kita umpamakan demikian. Suatu saat, kita
menerima tamu, kemudian Allah datang. Artinya kita menerima tamu, tepat
ketika waktu shalat tiba. Kemudian kita abaikan shalat. Kita abaikan
Allah. Nah, apakah demikian masih pantas pekerjaan kita disebut sebagai
ibadah? Apalagi kalau kemudian hasil pekerjaan dan usaha, hanya
sedikit yang diberikan kepada Allah daripada untuk kebutuhan-kebutuhan
kita sendiri. Tampaknya, kita perlu memikirkan kembali ungkapan
“pekerjaan sebagai ibadah.”